Page-level Ads

Thursday, August 24, 2017

Pacarku Direbut Sahabatku Sendiri


Kau Menyebut Dirimu Teman. Tapi Apakah Merebut Pacarku Adalah Perbuatan Seorang Kawan?

“Asal kamu tahu. Tidak mudah menulis ini, kemudian memaafkanmu.”

Aku rasa aku tidak berbeda dengan orang lainnya yang senantiasa mempertanyakan tentang siapakah dia yang kelak akan mendampingiku.
Begitu banyak kisah tentang cinta yang semakin membuatku bertanya, sungguhkah ia benar ada? Ataukah sebenarnya hal tersebut hanya bualan dari pujangga yang menjual cinta sebagai bahan dari tulisan sastra?

Kamu pernah jadi sosok yang sangat ku percaya. Semua rahasia dan ceritaku tentang dia, terumbar dalam berbagai cerita.

Kita pernah berbagi cerita.

Hingga sampai saat ini aku selalu memahami bahwa hidup adalah misteri. Kita tidak dapat menembus dimensi waktu untuk melihat kehidupan yang akan datang. Berbagai kejutan di masa depan mengajarkan kita untuk selalu percaya bahwa ada ketetapan-ketetapan Tuhan yang tidak pernah bisa kita tentang.

Termasuk cerita kita yang dulunya sama-sama pernah menyematkan gelar sahabat, meski kini cerita itu seolah telah lenyap.

Kamu pernah menjadi sosok yang paling ku percaya. Ku ingat saat semua masih baik-baik saja dan kamu adalah pendengar setia yang selalu dengan baik mendengar cerita. Tidak ada yang aku sembunyikan darimu, sahabatku. Setiap cerita tentang kami selalu ku bagi.

Bukan untuk memamerkan kebahagian tapi kamu tahu benar bahwa kami sedang kasmaran. Bahkan pernah ku pikir kamu adalah saudara perempuan yang Tuhan lupa titipkan pada perempuan yang ku sebut Mama. Ya, kau pernah menempati ruang spesial itu di hatiku.

Dulu.
Hidup sempat terasa sempurna karena kehadiranmu dan pria yang ku cinta. Hingga kini aku masih tak habis pikir, “Kapan tepatnya kalian mulai menjalin cerita?”

Hubungan yang ku kira akan kekal.
Sungguh terasa sangat membahagiakan saat aku merasa memiliki sahabat yang selalu ada dan lelaki yang kini tengah menghuni seluruh ruang jiwa.

Kehadiran kalian berdua sempat membuatku merasa jadi gadis paling berbahagia. Siapa yang tidak suka saat pria dan sahabat terbaiknya bisa berjalan bersisian tanpa sedikit pun friksi menyapa?

Tapi biar ku putar lagi ingatanku. Dua tahun lalu aku yang memperkenalkan kalian di lantai satu, pusat perbelanjaan jam 7 malam. Saat kalian berjabat tangan dan saling menyebutkan nama, mungkin di situlah kisah kalian mulai terukir.
Aku yang tidak bisa menebak isi hati setiap insan terbuai oleh manisnya sandiwara yang telah dimainkan. Rasa tertarik yang ku baca, ku usir dalam hati begitu saja dengan anggapan bahwa aku tidak boleh mencurigai kalian. Sungguh hingga kini rasa bingung masih menggantung di dadaku. Mungkinkah pengkhianatan ini skenario dari Tuhan, atau aku yang memang bodoh hingga tak bisa mencium keadaan?

Sekilas mata, perubahan itu jelas ada. Entah kalian terlalu pintar bermain drama, atau aku yang memang kurang peka?

Dia dan kamu semakin suka menghilang.
Selalu ku yakinkan diri kalau semuanya berjalan baik-baik saja. Walau ku tahu ada yang sedikit berbeda, aku tak ingin terburu-buru bertanya. Sekarang keengganan mengorek cerita itu terasa jadi kebodohanku yang tak boleh terulang kedua kalinya.

Kamu, sahabat yang dulu rasanya selalu ada, pelan-pelan menarik diri. Katamu kamu sibuk mengerjakan tugas rumah yang setumpuk jumlahnya. Tidak hanya padamu saja perubahan terjadi. Kisah cintaku dengan priaku pun mulai merenggang. Dia yang dulu selalu ku banggakan, kini terlihat mulai enggan untuk mempertahankan. Aku pun mulai merasa lelah dengan segala tingkahnya yang mulai jarang memberi kabar.

Di titik aku sangat membutuhkanmu, kau justru menyelinap untuk mencuri priaku. Hebatnya lagi, semua itu kau lakukan tanpa dosa — di balik punggungku.

Kau pun tak ada, saat hubunganku dan pria yang ku cinta di ambang mati rasa. Ketika dia mengucap kata pisah ke udara, apakah di sisi lain kau sedang melonjak bahagia?

Perpisahan pun terjadi.

Akhirnya setelah sama-sama diam cukup lama, aku dan dia merencanakan untuk secara dewasa membicarakan semua. Tentang apa yang yang seharusnya diputuskan, mencoba bertahan atau merelakan kisah ini berakhir. Keputusan telah diambil, secara jujur ia mengatakan bahwa rasanya telah lama padam. Aku menghormati keputusannya meskipun di saat yang sama hatiku mati rasa.

Air mataku jatuh dengan deras di hadapannya, ia terlihat iba dan mulai menghibur jika suatu saat mungkin kisah kami bisa dirajut kembali. Tapi, seperti biasa aku berusaha mengangkat muka mengatakan padanya bahwa aku baik-baik saja. Kami pun sepakat mengubah status kekasih hati menjadi ‘teman’ kembali. Kami saling berjabat tangan, mengakhiri kisah dengan kedewasaan.

Apakah kamu bahagia, Sahabatku, saat kau dengar aku ditinggalkan? Adakah rasa berdosa dalam dirimu, sebab mulai detik itu sepenuhnya bisa kau miliki priaku?

Hari saat aku membongkar permainan "petak-umpet" kalian, bisa masuk kategori momen paling menyakitkan. Tak hanya merasa bodoh, sesungguhnya aku pun merasa dipermainkan.

Terimakasih atas kejutannnya…

Terus terang aku merasa bahwa di hari itu mungkin aku adalah manusia paling menyedihkan di dunia. Bagaimana tidak, setelah harus ku relakan melepas kekasih yang ku sayang, kini aku harus menelan pahitnya pengkhianatan. Kecurangan yang datangnya dari dua orang yang sempat paling ku banggakan. Masih bisa ku dengar dengan jelas rayuannya padamu, di balik pintu kamar. Meyakinkanmu bahwa ia juga sudah melepaskan segala ikatan yang ia buat denganku.

Ku coba beranikan diri mengetuk pintu kamar meyakinkan bahwa di dalamnya adalah kalian. Masih terpahat dengan jelas di ingatan betapa pucatnya wajah kalian saat melihat aku berdiri dengan tubuh gemetar. Entah kekuatan dari mana yang datang sampai aku masih kuat mengatakan:
“Terima kasih atas permainan ini. Tuhan telah baik menunjukkan siapa kalian”.

Hebatnya, kau masih bisa memainkan peranmu. Setelah hari yang laknat itu, pesan maaf masih saja bertubi datang darimu. Oh, jadi beginikah permainanmu?

Menyembuhkan hati.

“Dear, Im soooo sorry. Aku juga gak tahu kenapa bisa suka sama Mukidi. Please, bisakah kita bicara seperti sahabat?”

Sesungguhnya di mana kamu belajar bermain drama? Bagaimana bisa kau masih punya muka untuk menghubungiku setelah semua yang terjadi di antara kita? Untuk beberapa waktu aku memilih jadi seonggok kentang yang teronggok di kasur. Tak pergi ke mana-mana, seakan ingin tenggelam dan menghilang dari dunia.

Pengkhianatan yang terjadi membuatku merasa tak ingin mengenal kalian lagi. Sekali pun logika mencoba menyadarkanku bahwa memusuhi kalian tidak akan mengurangi rasa sakit, tapi nurani tidak bisa begitu saja mengalah. Mungkin kali ini ia sedang membela pemiliknya karena harus menahan rasa kecewa.

Butuh waktu lama sebelum bisa ku panggil keikhlasan demi menghadapi wajah pengkhianatan. Tapi, kini semua sudah ku lepaskan — aku tak mau lama-lama memandangi masa lalu yang penuh kebodohan.

Membungkus segalanya dengan keikhlasan.

Fase terberat telah ku lewati. Tuhan juga telah mengajarkanku banyak hal tentang cobaan ini. Sebuah pelajaran bahwa pada akhirnya aku juga harus merelakan sebuah kisah yang ku kira kekal dan sahabat yang ku pikir sejati. Kini aku berada di "peron" keberangkatan menuju sebuah tempat yang ku kenal dengan nama "keikhlasan". Dari cerita beberapa teman, ku dengar kalian sedang merencanakan pernikahan. Aku selalu berdoa untuk segala kebaikan untuk kalian.

Pada do'a malam, aku selalu meminta kekuatan dari Dia sang sutradara kehidupan, untuk memberikan hati yang lebih besar. Suatu saat nanti, aku juga ingin menemukan seseorang yang bisa ku jadikan tempat bersandar. Seorang yang akan mampu menjadi pandamping hidup yang sepadan. Aku yakin waktunya akan datang, entah kapan biar saja semuanya berjalan sesuai rencana-Nya.

Arah jalan kita kini sudah terpencar. Pada Tuhan, ku panjatkan doa agar Ia memberiku hati yang besar. Semoga pula, kisah cintamu dan mantan priaku kian berkobar.

Jaga ia, teman.
Kini, hari bahagia itu sudah semakin dekat. Altar pernikahan tempat mengikat janji suci juga sudah tersedia. Pria yang dulu ku ingini, kini sudah resmi memintamu menjadi pendamping hidupnya. Sekali pun harus ku rasa perih, tapi ini adalah realita yang tak dapat ku bantah. Kamu telah memenangkan hatinya, dan ia juga terlihat sekuat tenaga memperjuangkanmu.

Hai teman, aku titipkan ia padamu. Pelihara semua yang ada padanya sekuat jiwa, tenaga, dan pikiran terbaik yang bisa kamu berikan. Selamat menempuh hidup baru yang pasti telah kalian rancang dengan indah.



Dariku,
*nino*
yang dulu pernah kau sebut 'Sahabat' sebelum momen pengkhianatan itu

No comments:

Post a Comment